Tari Molong Kopi: Seni Tradisi yang Menggambarkan Kehidupan Petani Kopi di Kawasan Ijen

https://images.openai.com/static-rsc-4/N9CP2RMX_wfzFiyz2aGRGFn665c6Vy9NX48gQyOT4awrDKhvNOu7hyzkwUsJcUkzR7pGBW0qrlPdc9yuAIFz5dkOR9QmPg1dicQdMq1L-PNRaQmPE8JjsvwBBb04crIh58HrRD9aSYUd9n9TcmASfNThSxwoeoIi_LBtq8EHr6hlnGyIbMVhKY9KXuT7SJGa?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/k71fpOrSYGEo8D3DhuIrZKVWjO3EhOJx_sIOKElFiOq50PLAjLFJOKjWBGl0efsmRecLTFqh5sm_rCJJX8seZPz7BbmG403cyzVNMAo_IAcAGtcMkDvJaz_bqto0mnJ6mgGiwMWj2ETuvnhbo8kWM7cM_l0eWnqVYn72LbXgAn_h6Sk_fWJKR7uQGXi84aAD?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/gyNLISQgWR5MufCJwWd2xro9KJqDa-S2R2hd3rL_N-sMTVp4Iemx1Vb8EHJDs29ZbzUNrZ_JI9HY1K2MACDjqhEfYc_sXzvp9p6ZIIY320VXIvyxsrClD7NAfd711zSFKqOEt4VIWFdljfAFhJTdOvgrkqQrnWPOC6mE8wVLSh3kZXS3I0zhJXQiYzRSsY3t?purpose=fullsize
4

Pendahuluan

Kawasan Ijen tidak hanya dikenal karena panorama gunung api, kawah asam, fenomena Blue Fire, hutan pegunungan, dan perkebunan kopi. Di balik lanskap alam tersebut berkembang pula berbagai tradisi masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan dan sumber penghidupan mereka.

Salah satunya adalah Tari Molong Kopi, sebuah karya seni yang menggambarkan aktivitas petani ketika memanen buah kopi.

Tari ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan identitas masyarakat Bondowoso, terutama wilayah penghasil kopi di kawasan dataran tinggi Ijen-Raung. Dalam inventarisasi budaya Ijen Geopark, Tari Molong Kopi bahkan ditempatkan sebagai salah satu unsur budaya yang memperlihatkan hubungan antara masyarakat, perkebunan, dan lanskap Ijen.

Nama “Molong Kopi” berasal dari bahasa Madura. Molong berarti memetik, sehingga secara sederhana Molong Kopi berarti memetik kopi. Istilah tersebut secara langsung menggambarkan aktivitas utama yang menjadi sumber inspirasi tarian ini.

Asal-Usul Tari Molong Kopi

Berbagai sumber lokal mengaitkan Tari Molong Kopi dengan Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso.

Desa Sumberwringin sendiri berada di kawasan dataran tinggi yang mempunyai hubungan erat dengan perkebunan kopi dan lanskap pegunungan Ijen-Raung.

Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Tari Molong Kopi sebagai salah satu kesenian tradisional Desa Wisata Sumberwringin. Selain tari tersebut, desa ini juga mempertahankan seni seperti mocopat dan karawitan.

Tari Molong Kopi menggambarkan kegembiraan para petani ketika musim panen kopi tiba. Karena itu, tarian ini bukan sekadar pertunjukan gerak, tetapi merupakan bentuk ekspresi budaya yang berangkat dari kehidupan sehari-hari masyarakat perkebunan.

Apa Arti “Molong Kopi”?

Secara sederhana:

Molong = memetik

Kopi = kopi

Sehingga:

Molong Kopi = Memetik Kopi

Aktivitas memetik kopi menjadi inspirasi utama dalam gerakan tari.

Dalam kehidupan sebenarnya, pemetikan kopi membutuhkan ketelitian. Buah kopi yang matang dipilih dan dipetik dari pohonnya, kemudian dikumpulkan untuk diproses lebih lanjut.

Aktivitas tersebut kemudian diterjemahkan menjadi gerakan-gerakan artistik.

Gerakan yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan pekerjaan pertanian berubah menjadi sebuah pertunjukan yang menggambarkan:

  • kerja keras;
  • kegembiraan;
  • kebersamaan;
  • rasa syukur;
  • dan hubungan manusia dengan alam.

Tari Molong Kopi dan Budaya Kopi Bondowoso

Untuk memahami Tari Molong Kopi, kita perlu memahami posisi kopi dalam kehidupan masyarakat Bondowoso.

Kabupaten Bondowoso dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kopi penting di Jawa Timur. Kawasan dataran tinggi di sekitar Ijen dan Raung memiliki kondisi lingkungan yang mendukung budidaya kopi, terutama kopi arabika.

Salah satu sumber yang mengutip pemerintah daerah menyebut perkebunan kopi arabika rakyat Bondowoso mencapai sekitar 17.000 hektare pada periode ketika informasi tersebut disampaikan.

Kopi bukan hanya komoditas ekonomi.

Bagi masyarakat di kawasan perkebunan, kopi berhubungan dengan:

  • pekerjaan;
  • tradisi;
  • musim;
  • interaksi sosial;
  • pariwisata;
  • dan identitas daerah.

Karena itu, munculnya seni seperti Tari Molong Kopi dapat dipahami sebagai cara masyarakat menceritakan kehidupan mereka melalui seni.

Tari yang Lahir dari Aktivitas Petani

Keunikan Tari Molong Kopi terletak pada sumber inspirasinya.

Tarian ini tidak mengambil cerita dari legenda kerajaan atau kisah kepahlawanan.

Sebaliknya, sumber ceritanya adalah aktivitas sehari-hari petani kopi.

Para penari menggambarkan petani perempuan yang sedang bekerja di kebun.

Gerakan tangan dapat merepresentasikan aktivitas memetik buah kopi.

Gerakan tubuh dan langkah kaki memberikan kesan aktivitas bekerja sekaligus kegembiraan.

Ketika dilakukan secara berkelompok, aktivitas individual tersebut berubah menjadi simbol kebersamaan masyarakat desa ketika menghadapi musim panen.

Kajian pendidikan mengenai Tari Molong Kopi juga menggambarkannya sebagai tari berbasis kearifan lokal yang mengambil inspirasi dari tanaman kopi dan kehidupan masyarakat Bondowoso.

Makna Filosofis Tari Molong Kopi

Walaupun gerakannya terlihat sederhana, Tari Molong Kopi memiliki sejumlah pesan yang dapat ditafsirkan dari konteks sosial masyarakat perkebunan.

1. Rasa Syukur

Musim panen merupakan saat penting bagi petani.

Setelah melewati proses panjang:

menanam → merawat → menunggu → memanen

akhirnya petani memperoleh hasil kerja mereka.

Karena itu, suasana tari menggambarkan kegembiraan dan rasa syukur atas hasil bumi.

Jadesta secara eksplisit menjelaskan bahwa Tari Molong Kopi mengekspresikan suka cita petani kopi Sumberwringin pada musim panen raya.

2. Kerja Keras

Di balik secangkir kopi terdapat proses panjang.

Petani harus:

  • mempersiapkan tanaman;
  • merawat kebun;
  • menjaga tanaman dari gangguan;
  • menunggu buah matang;
  • memanen;
  • memilah;
  • dan mengolah hasil panen.

Tari Molong Kopi mengangkat salah satu tahap paling penting dalam proses tersebut, yaitu pemetikan.

Dengan demikian, tarian juga menjadi bentuk penghargaan terhadap kerja keras petani kopi.

Baca Juga Artikel Lainnya :  Pantai Parang Ireng

3. Kebersamaan

Panen kopi merupakan aktivitas yang melibatkan masyarakat.

Tarian yang dilakukan secara berkelompok memperkuat simbol kebersamaan tersebut.

Beberapa penari bergerak bersama, menciptakan gambaran bahwa kehidupan perkebunan tidak hanya bergantung pada individu tetapi juga hubungan sosial masyarakat.

4. Hubungan Manusia dan Alam

Kopi tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh.

Tanaman membutuhkan:

  • tanah;
  • air;
  • iklim;
  • ketinggian;
  • dan kondisi lingkungan yang sesuai.

Karena itu, Tari Molong Kopi secara tidak langsung juga menggambarkan hubungan manusia dengan alam pegunungan.

Gerakan Tari yang Terinspirasi dari Memetik Kopi

Salah satu karakteristik Tari Molong Kopi adalah penggunaan gerakan yang mengambil inspirasi dari aktivitas petani.

Gerakan tersebut dapat menggambarkan:

mengamati buah → memetik → mengumpulkan → membawa hasil panen → merayakan hasil panen.

Gerakan-gerakan tersebut kemudian dikembangkan menjadi koreografi yang lebih dinamis.

Sebuah kajian mengenai pertunjukan Tari Molong Kopi menjelaskan bahwa tarian ini menggambarkan petani kopi yang menghadapi musim panen dengan gerakan lincah, riang dan dinamis sebagai ungkapan kebahagiaan ketika memetik kopi.

Dengan demikian, koreografinya mengubah pekerjaan pertanian menjadi bahasa tubuh yang dapat dipahami penonton.

Penari Tari Molong Kopi

Tari Molong Kopi umumnya dibawakan oleh penari perempuan.

Beberapa sumber mengenai kesenian ini menjelaskan bahwa para penari menggambarkan sosok petani perempuan yang bekerja memanen kopi.

Karakter yang ditampilkan adalah perempuan yang:

  • sederhana;
  • cekatan;
  • tegas;
  • tetapi tetap luwes.

Kajian mengenai budaya Sumberwringin juga menjelaskan Tari Molong Kopi sebagai gambaran suka cita petani kopi pada musim panen raya.

Dalam perkembangannya, tarian ini juga diajarkan kepada anak-anak dan pelajar sebagai bagian dari kegiatan pendidikan serta pelestarian budaya. Penelitian Universitas Muhammadiyah Jember mendokumentasikan pelaksanaan kegiatan Tari Molong Kopi sebagai kegiatan ekstrakurikuler di Bondowoso.

Busana Tari Molong Kopi

Busana menjadi salah satu elemen visual yang membuat Tari Molong Kopi mudah dikenali.

Dalam sejumlah dokumentasi dan bahan pembelajaran mengenai tarian ini, penari digambarkan menggunakan busana bernuansa cerah dengan karakter pakaian masyarakat petani.

Salah satu sumber pendidikan mendeskripsikan penari menggunakan busana merah dan rok, yang dikaitkan dengan karakter perempuan petani yang tegas dan luwes.

Sementara dokumentasi lain menyebut kombinasi busana seperti warna merah, hijau serta unsur penutup kepala sebagai bagian dari penampilan tari.

Perlu dicatat bahwa kostum dapat mengalami variasi sesuai kelompok seni, koreografi dan kebutuhan pertunjukan, sehingga tidak semua pementasan harus menggunakan kostum yang persis sama.


Musik Pengiring: Tong-Tong

Salah satu karakter yang membedakan Tari Molong Kopi adalah penggunaan musik tong-tong.

Tong-tong merupakan musik yang menggunakan instrumen perkusi tradisional berupa kentongan yang dapat dibuat dari kayu atau bambu.

Berbagai ukuran instrumen menghasilkan karakter suara yang berbeda.

Ketika dimainkan bersama, bunyi-bunyian tersebut membentuk irama yang dapat mengiringi gerakan tari.

Dokumentasi Ijen Geopark dan berbagai sumber pendidikan mengenai Tari Molong Kopi sama-sama menyebut musik tong-tong sebagai pengiring penting dalam tarian ini.

Apa Itu Musik Tong-Tong?

Tong-tong pada dasarnya berhubungan dengan tradisi musik perkusi berbasis kentongan.

Kentongan mempunyai sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Jawa dan Madura sebagai alat komunikasi maupun instrumen bunyi.

Dalam konteks pertunjukan, beberapa kentongan dengan ukuran dan karakter suara berbeda dimainkan bersama.

Hasilnya adalah irama yang:

  • ritmis;
  • energik;
  • sederhana;
  • dan mudah mengiringi gerakan kelompok.

Dalam salah satu dokumentasi mengenai pertunjukan Bondowoso, musik Tong-Tong dijelaskan menggunakan kentongan dari kayu atau bambu dalam berbagai ukuran yang kemudian dikolaborasikan menjadi satu sajian musik.

Tari Molong Kopi sebagai Identitas Daerah

Tari Molong Kopi memiliki fungsi lebih luas daripada hiburan.

Tarian ini digunakan untuk memperkenalkan Bondowoso sebagai daerah penghasil kopi.

Sebuah pernyataan pemerintah daerah yang diberitakan pada 2021 menyebut penciptaan tari tersebut sebagai sarana promosi kopi sekaligus penghargaan kepada para petani kopi Bondowoso.

Artinya, satu karya seni dapat membawa beberapa pesan sekaligus:

Ini adalah budaya kami.

Ini adalah pekerjaan masyarakat kami.

Ini adalah kopi yang dihasilkan daerah kami.

Dan ini adalah cara kami menghargai petani.


Tari Molong Kopi dalam Ijen Geopark

Bagian ini sangat penting untuk memahami relevansinya dengan kawasan Ijen.

Ijen Geopark bukan hanya tentang geologi.

Konsep geopark menghubungkan:

geologi + keanekaragaman hayati + budaya + masyarakat.

Dalam informasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengenai revalidasi Ijen Geopark, Tari Molong Kopi disebut bersama sejumlah warisan budaya lain sebagai culturesite yang memperkuat hubungan antara geologi, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.

Dengan demikian, Tari Molong Kopi dapat dipahami sebagai bagian dari cerita yang lebih besar:

Baca Juga Artikel Lainnya :  Kawah Wurung

Gunung Ijen dan Raung → tanah dan iklim pegunungan → perkebunan kopi → kehidupan petani → budaya → Tari Molong Kopi.

Mengapa Tarian Petani Penting dalam Geopark?

Bayangkan seseorang datang ke kawasan Ijen.

Ia melihat:

  • gunung;
  • hutan;
  • perkebunan;
  • sungai;
  • desa;
  • dan kebun kopi.

Jika hanya melihat geologi, cerita tersebut belum lengkap.

Pertanyaan berikutnya adalah:

Siapa yang hidup di lanskap tersebut?

Bagaimana masyarakat memanfaatkan alam?

Bagaimana alam memengaruhi budaya?

Tari Molong Kopi memberikan jawabannya melalui seni.

Tanaman kopi yang tumbuh di lingkungan pegunungan akhirnya tidak hanya menghasilkan komoditas.

Ia juga melahirkan:

  • tradisi;
  • festival;
  • kuliner;
  • pekerjaan;
  • identitas;
  • dan karya seni.

Hubungan Kopi dengan Lanskap Ijen-Raung

Kawasan Ijen-Raung mempunyai lanskap pegunungan yang sangat penting bagi pertanian dataran tinggi.

Ketinggian, iklim, tanah vulkanik dan kondisi ekologis menjadi bagian dari lingkungan yang memungkinkan perkebunan berkembang.

Di kawasan Bondowoso, kopi menjadi salah satu identitas ekonomi sekaligus budaya.

Oleh karena itu, Tari Molong Kopi dapat dibaca sebagai representasi budaya dari lanskap perkebunan.

Jika geosite seperti Dinding Kaldera Ijen Megasari menceritakan sejarah pembentukan bentang alam, maka budaya kopi menceritakan bagaimana manusia kemudian hidup dan bekerja di dalam bentang alam tersebut.

Molong Kopi dan Tradisi Panen Raya

Musim panen merupakan momentum penting bagi masyarakat perkebunan.

Ritual Rokat Molong Kopi, misalnya, merupakan tradisi yang berbeda tetapi memiliki hubungan erat dengan budaya kopi di lereng Ijen-Raung Bondowoso.

Dalam pemberitaan mengenai Rokat Molong Kopi 2024, tradisi tersebut dijelaskan sebagai selamatan sebelum panen kopi, sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar hasil panen melimpah. Prosesi tersebut diawali dengan doa dan kemudian dilanjutkan dengan pemetikan kopi.

Ini menarik karena menunjukkan bahwa budaya kopi di kawasan Ijen tidak hanya muncul dalam bentuk tari.

Ada pula:

ritual → doa → panen → kopi → seni → pariwisata.

Perbedaan Tari Molong Kopi dan Tari Petik Kopi

Nama Tari Molong Kopi terkadang menimbulkan kebingungan karena ada pula istilah Tari Petik Kopi.

Beberapa sumber bahkan menggunakan istilah tersebut secara bergantian.

Namun, dalam konteks budaya daerah, terdapat karya-karya tari bertema kopi yang berbeda.

Salah satu sumber pendidikan menyebut Tari Molong Kopi/Tari Petik Kopi sebagai kesenian Bondowoso, sedangkan sumber lain membedakannya dengan Tari Petik Kopi dari Jember terutama berdasarkan musik pengiring.

Karena itu, ketika menulis tentang Tari Molong Kopi, penting mencantumkan asal daerah dan konteks budayanya agar tidak tercampur dengan karya tari bertema kopi dari daerah lain.

Tari Molong Kopi sebagai Media Pelestarian Budaya

Salah satu tantangan terbesar kesenian tradisional adalah regenerasi.

Jika hanya dimainkan oleh generasi tua, sebuah kesenian dapat kehilangan pelaku dan penontonnya.

Karena itu, pengenalan Tari Molong Kopi kepada anak-anak dan pelajar mempunyai arti penting.

Penelitian mengenai kegiatan ekstrakurikuler Tari Molong Kopi di Bondowoso menunjukkan bahwa tarian ini digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran seni.

Anak-anak tidak hanya belajar:

gerakan tari.

Mereka juga belajar:

  • mengenal kopi;
  • mengenal kehidupan petani;
  • mengenal budaya daerah;
  • bekerja dalam kelompok;
  • dan menghargai warisan budaya.

Tari Molong Kopi dalam Pariwisata

Desa Wisata Sumberwringin menjadikan kesenian lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Jadesta mencatat wisatawan tidak hanya dapat menikmati pertunjukan, tetapi juga dapat berinteraksi dengan masyarakat dan mempelajari unsur budaya lokal lainnya.

Ini sejalan dengan konsep community-based tourism.

Wisatawan tidak hanya datang untuk mengambil foto.

Mereka dapat:

  1. melihat perkebunan kopi;
  2. mengenal proses produksi;
  3. mencicipi kopi;
  4. mengenal kehidupan petani;
  5. menyaksikan pertunjukan;
  6. belajar musik dan budaya lokal;
  7. berinteraksi dengan masyarakat.

Dengan demikian, kopi menjadi penghubung antara pertanian, budaya dan pariwisata.

Nilai Ekonomi Kreatif

Tari Molong Kopi juga mempunyai potensi dalam pengembangan ekonomi kreatif.

Sebuah pertunjukan budaya dapat menjadi bagian dari:

  • festival kopi;
  • festival budaya;
  • penyambutan wisatawan;
  • paket desa wisata;
  • pertunjukan sekolah;
  • promosi produk kopi;
  • acara pemerintah;
  • dan promosi Ijen Geopark.

Hal tersebut membuat kesenian tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari ekonomi budaya masa kini.

Tari Molong Kopi dan Generasi Muda

Generasi muda memiliki posisi penting dalam kelangsungan tarian ini.

Ketika anak-anak mempelajari Tari Molong Kopi, mereka sebenarnya sedang mempelajari sebuah cerita tentang daerahnya sendiri.

Cerita tersebut berbunyi:

“Di tempat ini ada gunung.”

“Di lerengnya tumbuh kopi.”

“Ada masyarakat yang merawat kebun.”

“Ada petani yang memanen.”

“Ada rasa syukur setelah panen.”

“Dan semua pengalaman itu kemudian diwujudkan menjadi tari.”

Inilah salah satu bentuk pelestarian budaya yang hidup.

Baca Juga Artikel Lainnya :  Kawah Ijen & Blue Fire

Tari Molong Kopi sebagai Cerita tentang Manusia dan Alam

Jika diperhatikan lebih dalam, Tari Molong Kopi sebenarnya memiliki hubungan erat dengan konsep keberlanjutan.

Tanaman kopi membutuhkan lingkungan.

Petani membutuhkan kopi.

Masyarakat membutuhkan pendapatan.

Wisata membutuhkan budaya.

Budaya membutuhkan masyarakat.

Semua unsur tersebut saling berhubungan.

Karena itu, melestarikan Tari Molong Kopi bukan hanya melestarikan gerakan tari.

Kita juga perlu menjaga:

petani + perkebunan + lingkungan + budaya + generasi penerus.

Peran Tari Molong Kopi dalam Identitas Ijen Geopark

Salah satu kekuatan Ijen Geopark adalah keberadaan hubungan antara unsur alam dan manusia.

Geologi menjelaskan:

bagaimana lanskap terbentuk.

Biologi menjelaskan:

kehidupan yang berkembang di dalamnya.

Budaya menjelaskan:

bagaimana manusia hidup bersama lanskap tersebut.

Tari Molong Kopi berada pada bagian ketiga.

Ia menjadi representasi manusia yang memanfaatkan lingkungan pegunungan untuk menghasilkan kopi dan kemudian menjadikan pengalaman tersebut sebagai karya budaya.

Dari Kebun Kopi Menjadi Panggung Tari

Perjalanan sebuah buah kopi dapat digambarkan secara sederhana:

Tanah vulkanik

Pohon kopi

Bunga

Buah kopi

Petani merawat tanaman

Buah matang

Molong / memetik kopi

Panen

Pengolahan

Kopi

Budaya dan ekonomi

Tari Molong Kopi mengambil salah satu tahap penting dari rangkaian tersebut:

memetik kopi.

Namun melalui seni, aktivitas sederhana tersebut berubah menjadi simbol kehidupan masyarakat.

Tantangan Pelestarian

Agar Tari Molong Kopi tetap hidup, pelestarian tidak cukup dilakukan dengan menampilkan tarian sesekali.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Regenerasi penari

Melibatkan anak-anak dan generasi muda.

2. Dokumentasi

Mendokumentasikan gerakan, musik, busana dan sejarah tarian.

3. Pendidikan

Memasukkannya dalam kegiatan seni di sekolah dan sanggar.

4. Pertunjukan rutin

Menampilkan tarian pada festival dan kegiatan desa.

5. Integrasi dengan wisata kopi

Menjadikan pertunjukan sebagai bagian dari pengalaman wisata.

6. Pelibatan petani

Memastikan cerita yang ditampilkan tetap berhubungan dengan kehidupan masyarakat perkebunan.

7. Digitalisasi

Membuat arsip foto, video dan informasi sejarah agar dapat diakses generasi berikutnya.

Mengapa Tari Molong Kopi Layak Diperkenalkan kepada Wisatawan?

Wisatawan yang datang ke kawasan Ijen biasanya mencari:

  • Kawah Ijen;
  • Blue Fire;
  • panorama pegunungan;
  • perkebunan;
  • air terjun;
  • dan desa wisata.

Namun pengalaman wisata akan menjadi jauh lebih lengkap apabila wisatawan juga mengenal masyarakat yang hidup di kawasan tersebut.

Tari Molong Kopi memberikan pintu masuk untuk memahami:

“Siapa masyarakat di balik lanskap Ijen?”

Kesimpulan

Tari Molong Kopi merupakan kesenian yang menggambarkan kehidupan petani kopi, khususnya aktivitas memetik kopi pada musim panen.

Nama Molong Kopi berasal dari bahasa Madura dan secara sederhana berarti memetik kopi. Tarian ini dikaitkan dengan Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, bukan Kabupaten Banyuwangi.

Gerakannya terinspirasi dari aktivitas petani kopi dan menampilkan suasana ceria, lincah dan penuh kebersamaan ketika musim panen tiba.

Musik tong-tong yang menggunakan instrumen kentongan menjadi salah satu ciri penting pengiringnya.

Lebih jauh lagi, Tari Molong Kopi merupakan contoh bagaimana komoditas pertanian dapat berkembang menjadi identitas budaya.

Kopi bukan hanya produk yang dijual.

Di kawasan Ijen, kopi juga menjadi bagian dari:

lanskap → pekerjaan → tradisi → seni → identitas → pariwisata.

Dalam konteks Ijen Geopark, nilai inilah yang membuat Tari Molong Kopi menarik. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyebut Tari Molong Kopi sebagai salah satu unsur budaya dalam kawasan Ijen Geopark yang memperkuat hubungan antara geologi, budaya dan kehidupan masyarakat lokal.

Dengan demikian, ketika seseorang melihat pertunjukan Tari Molong Kopi, yang sebenarnya sedang disaksikan bukan sekadar gerakan penari.

Di balik setiap gerakan terdapat cerita tentang petani, kebun kopi, musim panen, rasa syukur, dan hubungan manusia dengan alam pegunungan Ijen-Raung.

Fakta Singkat Tari Molong Kopi

Informasi Keterangan
Nama Tari Molong Kopi
Makna nama Memetik kopi
Asal yang terdokumentasi Desa Sumberwringin, Bondowoso
Provinsi Jawa Timur
Kawasan budaya Ijen-Raung / Tapal Kuda
Tema Aktivitas dan kegembiraan petani saat panen kopi
Penari Umumnya kelompok perempuan
Musik pengiring Tong-tong
Instrumen utama Kentongan kayu/bambu
Nilai budaya Syukur, kerja keras, kebersamaan
Kaitan geopark Culturesite Ijen Geopark
Kaitan wisata Desa Wisata Sumberwringin dan wisata kopi
Komoditas utama Kopi, terutama kopi dataran tinggi
Status geografis Bondowoso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *