Kawah Wurung Bondowoso: Padang Savana di Jantung Ijen Geopark yang Menyimpan Cerita Vulkanik
Di antara lanskap vulkanik Pegunungan Ijen yang terkenal karena Kawah Ijen dan fenomena Blue Fire, terdapat sebuah kawasan yang menawarkan karakter yang sangat berbeda: Kawah Wurung.
Alih-alih danau kawah berwarna toska dan kepulan gas belerang, Kawah Wurung menghadirkan hamparan padang rumput, bukit-bukit hijau, cekungan luas, dan panorama pegunungan. Karena bentuk perbukitannya, tempat ini sering mendapat julukan “Bukit Teletubbies”.
Namun, menyebut Kawah Wurung sekadar sebagai tempat wisata untuk berfoto sebenarnya terlalu menyederhanakan nilainya.
Kawasan ini merupakan bagian dari bentang alam vulkanik Ijen dan memiliki nilai geologi yang menarik. Dalam pengembangan Ijen UNESCO Global Geopark, Kawah Wurung dipandang sebagai salah satu lokasi yang dapat membantu pengunjung memahami bagaimana aktivitas gunung api setelah pembentukan kaldera menghasilkan berbagai bentuk bentang alam.
Artikel ini membahas Kawah Wurung dari sisi geologi, sejarah pembentukannya, lanskap, keanekaragaman alam, wisata, masyarakat, panas bumi, hingga prinsip wisata berkelanjutan.
Di Mana Kawah Wurung Berada?
Kawah Wurung berada di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Sumber resmi Pemerintah Kabupaten Bondowoso menyebut lokasi ini berjarak sekitar 74 kilometer dari pusat Kota Bondowoso. Kawasan tersebut terkenal dengan perbukitan dan hamparan padang rumputnya.
Dalam sejumlah dokumen geosite Ijen, kawasan Kawah Wurung juga dijelaskan berada di sekitar perbatasan Desa Kalianyar dan Desa Jampit.
Lokasinya berada dalam lingkungan vulkanik Kompleks Ijen, sehingga perjalanan menuju Kawah Wurung bukan sekadar perjalanan menuju sebuah padang rumput. Pengunjung sebenarnya sedang memasuki salah satu bagian dari lanskap vulkanik besar yang membentuk kawasan Ijen.
Mengapa Disebut “Kawah Wurung”?
Nama Wurung berasal dari bahasa Jawa yang secara umum berarti tidak jadi, gagal, atau tidak terlaksana.
Nama tersebut berkaitan dengan bentuk kawasan yang menyerupai kawah, tetapi tidak memiliki kawah seperti yang biasanya dibayangkan orang.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso menjelaskan bahwa Kawah Wurung memiliki sebuah ceruk atau cekungan yang menyerupai kawah, tetapi bagian dalamnya tidak berupa danau kawah.
Jadi, nama tersebut lebih tepat dipahami sebagai “kawah yang tidak jadi” dalam konteks penamaan lokal.
Menariknya, dari perspektif geologi modern, cerita Kawah Wurung jauh lebih kompleks daripada sekadar kawah yang gagal terbentuk.
Kawah Wurung dan Ijen Geopark
Kawah Wurung merupakan bagian dari kawasan Ijen Geopark, yang mencakup wilayah Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi.
Ijen Geopark memiliki 21 situs geologi yang dikembangkan dari skala lokal hingga internasional. Kawasan geopark ini memiliki hubungan erat antara geologi, keanekaragaman hayati, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Pada 9 September 2023, Ijen secara resmi ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark dalam konferensi internasional UNESCO di Marrakesh, Maroko.
Pengakuan tersebut penting karena sebuah geopark bukan hanya kumpulan tempat wisata.
Konsep geopark menekankan tiga hal utama:
- konservasi
- edukasi
- pemberdayaan masyarakat
Dengan perspektif tersebut, Kawah Wurung seharusnya dipahami bukan hanya sebagai tempat menikmati panorama, tetapi sebagai bagian dari cerita geologi dan sosial yang lebih besar.
Bagaimana Kawah Wurung Terbentuk?
Inilah bagian yang paling menarik.
Kawasan Ijen merupakan sistem vulkanik kompleks yang terbentuk melalui berbagai fase aktivitas gunung api. Setelah pembentukan kaldera besar Ijen, aktivitas vulkanik tidak berhenti.
Sebaliknya, aktivitas gunung api kemudian berkembang di dalam dan di sekitar kaldera.
Dokumen geosite Ijen menjelaskan bahwa Kawah Wurung merupakan bagian dari aktivitas gunung api intrakaldera. Di sekitarnya terdapat beberapa gunung api pascakaldera, antara lain Gunung Kawah Wurung, Gunung Genteng, Gunung Pendil, Gunung Pendlan, dan Gunung Anyar.
Pengurus Harian Ijen Geopark juga menjelaskan Kawah Wurung sebagai geosite yang merepresentasikan anak gunung api pascakaldera.
Artinya, Kawah Wurung bukan sebuah bentang alam yang berdiri sendiri.
Ia merupakan bagian dari perkembangan vulkanisme yang terjadi setelah terbentuknya Kaldera Ijen.
Apa Itu Gunung Api Intrakaldera?
Istilah ini penting untuk memahami Kawah Wurung.
Intrakaldera berarti berada di dalam kaldera.
Ketika sebuah gunung api besar mengalami erupsi eksplosif dan menghasilkan kaldera, aktivitas magma tidak otomatis berhenti. Sistem magma di bawahnya masih dapat menghasilkan pusat-pusat erupsi baru.
Pusat-pusat vulkanik baru tersebut kemudian dapat membentuk:
- kerucut gunung api,
- aliran lava,
- endapan piroklastik,
- kubah atau bentuk vulkanik lainnya,
- serta berbagai bentang alam yang berkembang akibat erosi.
Kawah Wurung menjadi salah satu contoh bagaimana aktivitas pascakaldera membentuk lanskap baru di dalam sistem Ijen.
Penelitian mengenai perkembangan geologi Ijen menunjukkan bahwa kawasan Bondowoso merupakan bagian penting dari sistem kaldera dan gunung api pascakaldera. Studi geotrail terbaru juga mengidentifikasi kawasan Bondowoso sebagai sektor yang memiliki kaldera, kerucut pascakaldera, aliran lava, lembah sungai, dan gawir.
“Bukit Teletubbies” yang Terbentuk Secara Alami
Salah satu alasan Kawah Wurung populer adalah bentuk lanskapnya.
Bukit-bukit hijau yang bergelombang membentuk pemandangan seperti ilustrasi negeri fiksi. Karena itu, wisatawan sering menyebutnya Bukit Teletubbies.
Tetapi sebenarnya bentuk tersebut mempunyai dasar geomorfologi.
Bentang alam Kawah Wurung terdiri atas kombinasi:
aktivitas vulkanik + material vulkanik + proses pelapukan + erosi + pertumbuhan vegetasi.
Hasil akhirnya adalah lanskap perbukitan terbuka dengan lembah dan cekungan yang tampak lembut dari kejauhan.
Dokumen geosite Ijen menyebut keunggulan geologi Kawah Wurung sebagai morfologi “Gunung Api Teletubbies” intrakaldera.
Jadi, julukan tersebut memang populer di kalangan wisatawan, tetapi bentuk bukitnya memiliki cerita geologi yang jauh lebih tua.
Mengapa Kawah Wurung Tidak Memiliki Danau?
Pertanyaan ini sering muncul karena nama “kawah” membuat orang membayangkan sebuah lubang besar yang terisi air.
Namun, Kawah Wurung berbeda dengan Kawah Ijen.
Kawah Ijen mempunyai cekungan yang terisi air sehingga terbentuk danau kawah.
Kawah Wurung justru didominasi oleh padang rumput dan vegetasi.
Inilah yang menjadi salah satu karakter paling uniknya.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso bahkan menjelaskan secara eksplisit bahwa ceruk yang menyerupai kawah di Kawah Wurung tidak memiliki kawah di dalamnya.
Dengan demikian, istilah “kawah” pada Kawah Wurung lebih berkaitan dengan bentuk bentang alam dan sejarah penamaan lokal daripada keberadaan danau kawah aktif seperti di Ijen.
Dari Hijau Menjadi Kekuningan: Lanskap Kawah Wurung Berubah Mengikuti Musim
Salah satu hal menarik dari Kawah Wurung adalah perubahan warna lanskapnya.
Pada periode dengan curah hujan tinggi, padang rumput dapat terlihat hijau dan subur.
Ketika musim kemarau berlangsung, vegetasi rumput dapat berubah menjadi kuning kecokelatan.
Perubahan ini justru menciptakan dua karakter visual yang berbeda.
Musim hujan
- Rumput lebih hijau
- Lanskap terlihat segar
- Kontras dengan langit dan pegunungan sangat kuat
- Cocok untuk fotografi lanskap hijau
Musim kemarau
- Rumput berubah kekuningan
- Lanskap terlihat lebih dramatis
- Tekstur bukit lebih terlihat
- Memberikan nuansa savana
Karena itu, tidak ada satu “wajah” Kawah Wurung.
Lanskapnya berubah mengikuti siklus musim.
Keanekaragaman Hayati di Sekitar Kawah Wurung
Kawah Wurung tidak hanya memiliki nilai geologi.
Kawasan Ijen secara keseluruhan mempunyai keanekaragaman hayati yang menjadi salah satu komponen penting Ijen Geopark.
Desa Wisata Kalianyar, misalnya, secara resmi dipromosikan sebagai desa wisata dengan kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati. Desa tersebut juga menjadi lokasi beberapa titik penting Ijen Geopark.
Vegetasi padang rumput dan kawasan hutan di sekelilingnya menciptakan mosaik habitat yang berbeda.
Pada musim tertentu, bunga-bunga liar juga dapat muncul di antara rerumputan.
Salah satu tumbuhan yang sering dikaitkan dengan kawasan Kawah Wurung adalah bandotan atau wedusan, yang memiliki bunga kecil berwarna putih hingga keunguan. Perhutani pernah mencatat keberadaan tumbuhan tersebut di kawasan ini.
Kawah Wurung dan Potensi Panas Bumi
Salah satu fakta yang sering luput dari pembahasan wisata Kawah Wurung adalah keberadaan potensi panas bumi.
Ini sangat masuk akal jika dilihat dari konteks geologinya.
Kawah Wurung berada dalam sistem vulkanik Ijen yang masih memiliki aktivitas hidrotermal.
Sebuah penelitian pemetaan suhu permukaan menggunakan data Landsat 8 menemukan anomali temperatur permukaan di wilayah Kawah Wurung dan sekitarnya pada kisaran 31–50°C, yang ditafsirkan berkaitan dengan potensi geothermal di beberapa lokasi.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga mencatat bahwa pemanfaatan panas bumi telah dikembangkan melalui PLTP Blawan-Ijen, dan kawasan Kawah Wurung termasuk dalam wilayah yang memiliki potensi panas bumi.
Hal ini menunjukkan bahwa di bawah lanskap hijau Kawah Wurung terdapat sistem energi panas bumi yang berkaitan dengan sejarah vulkanik kawasan Ijen.
Mengapa Kawah Wurung Berbeda dari Kawah Ijen?
Kedua lokasi tersebut sering dikunjungi dalam perjalanan yang sama, tetapi karakter keduanya sangat berbeda.
| Karakteristik | Kawah Wurung | Kawah Ijen |
|---|---|---|
| Lanskap utama | Padang rumput dan bukit | Kawah dan danau |
| Karakter visual | Hijau/kekuningan | Toska, abu-abu, vulkanik |
| Daya tarik utama | Savana dan panorama | Danau kawah & Blue Fire |
| Lingkungan | Perbukitan terbuka | Kawah vulkanik aktif |
| Aktivitas wisata | Trekking, fotografi, jeep adventure | Trekking, melihat kawah |
| Nilai geologi | Vulkanisme intrakaldera | Danau kawah aktif |
| Fenomena sulfur | Tidak menjadi daya tarik utama | Sangat dominan |
Karena perbedaan tersebut, mengunjungi keduanya memberikan pengalaman yang jauh lebih lengkap untuk memahami lanskap Ijen.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Kawah Wurung
1. Menikmati Panorama
Aktivitas paling sederhana justru menjadi salah satu yang terbaik.
Dari kawasan bukit, pengunjung dapat melihat hamparan padang rumput dan rangkaian pegunungan di sekitar Ijen.
Pada cuaca cerah, lanskap terlihat sangat luas.
2. Fotografi Lanskap
Kawah Wurung merupakan lokasi yang sangat menarik bagi fotografer lanskap.
Komposisinya memiliki beberapa elemen yang mudah dikombinasikan:
- bukit,
- savana,
- jalan,
- pepohonan,
- kabut,
- pegunungan,
- langit,
- dan cahaya matahari.
Pada pagi hari, kabut dapat memberikan lapisan atmosfer pada pegunungan.
3. Menikmati Sunrise
Kawasan ini juga dikenal sebagai lokasi untuk menikmati matahari terbit.
Desa Kalianyar mencantumkan matahari terbit sebagai salah satu daya tarik Kawah Wurung.
Namun, hasil terbaik sangat bergantung pada cuaca.
Pegunungan membuat kondisi awan dan kabut berubah dengan cepat.
4. Trekking Ringan
Kawah Wurung tidak hanya dapat dinikmati dari satu titik.
Pengunjung dapat berjalan menyusuri area perbukitan untuk mendapatkan sudut pandang berbeda.
Tetap gunakan jalur yang diperbolehkan dan hindari menginjak vegetasi secara sembarangan.
5. Jeep Adventure
Pengembangan wisata terbaru di Bondowoso juga mengarah pada pengalaman Ijen Caldera Adventure.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso memperkenalkan rute GeoTrip Jeep yang menghubungkan Paltuding, Kalipait, Kawah Wurung, Jabal Kirmit, hingga Air Panas Blawan.
Paket Ijen Caldera Adventure di Kawah Wurung dirancang untuk memanfaatkan lanskap savana melalui perjalanan off-road menggunakan jeep sekaligus memberdayakan desa-desa di kawasan Ijen.
Ini berpotensi membuat Kawah Wurung bukan hanya destinasi singgah, tetapi bagian dari jalur wisata geologi Ijen yang lebih luas.
Kawah Wurung sebagai Destinasi Berbasis Masyarakat
Salah satu aspek menarik dari perkembangan Kawah Wurung adalah keterlibatan masyarakat lokal.
Penelitian mengenai pengembangan Kawah Wurung sebagai tapak desa wisata menunjukkan bahwa pengembangan destinasi ini berkaitan dengan penguatan SDM pariwisata desa, Pokdarwis, fasilitas dasar, dan manajemen pengelolaan.
Konsep tersebut penting.
Destinasi wisata alam tidak akan berkelanjutan jika seluruh manfaat ekonominya hanya terkonsentrasi di luar desa.
Masyarakat lokal dapat berperan melalui:
- pemandu wisata,
- transportasi,
- homestay,
- kuliner,
- produk UMKM,
- jasa jeep,
- fotografi,
- pengelolaan tiket,
- serta kegiatan edukasi.
Desa Wisata Kalianyar sendiri menyediakan berbagai fasilitas wisata seperti area parkir, kafetaria, jungle tracking, toilet umum, kios suvenir, tempat makan, mushola, dan area foto.
Kawah Wurung dalam Rencana Pariwisata Bondowoso
Kawah Wurung bukan destinasi yang berdiri sendiri dalam perencanaan daerah.
Dokumen pembangunan Kabupaten Bondowoso memasukkan Kawah Wurung sebagai salah satu bagian dari Kawasan Pariwisata Ijen–Raung Geopark bersama beberapa destinasi lain seperti Kawah Ijen, Kalipait, Air Terjun Blawan, pendakian Raung, Puncak Megasari, pemandian air panas Blawan, dan agrowisata kopi.
Hal ini memperlihatkan arah pengembangan yang lebih besar:
bukan menjual satu objek wisata, tetapi membangun ekosistem perjalanan Ijen.
Wisatawan dapat menggabungkan pengalaman:
geologi → savana → vulkanologi → kopi → air panas → budaya → konservasi.
Kawah Wurung dan Kopi Ijen
Perjalanan menuju kawasan Kawah Wurung juga memperlihatkan hubungan antara gunung api dan pertanian.
Tanah vulkanik yang telah mengalami pelapukan dapat menjadi media yang sangat baik bagi berbagai tanaman.
Kawasan Ijen dikenal dengan produksi kopi, dan UNESCO menempatkan Bondowoso Coffee sebagai salah satu bagian penting dari warisan alam-budaya Ijen Geopark.
Dengan demikian, hubungan antara Kawah Wurung dan kopi bukan sekadar kebetulan geografis.
Ada hubungan panjang antara:
gunung api → batuan vulkanik → tanah → perkebunan → masyarakat → ekonomi lokal.
Inilah salah satu gagasan utama geopark.
Geologi tidak berhenti pada batuan.
Geologi pada akhirnya dapat memengaruhi kehidupan manusia.
Kapan Waktu Terbaik Mengunjungi Kawah Wurung?
Tidak ada satu waktu yang mutlak paling baik karena preferensi wisatawan berbeda.
Jika ingin padang rumput hijau
Pilih periode ketika curah hujan cukup dan vegetasi sedang tumbuh aktif.
Jika ingin nuansa savana keemasan
Musim kemarau biasanya memberikan lanskap yang lebih kuning dan kering.
Jika ingin sunrise
Datang sebelum matahari terbit dan pastikan akses serta aturan pembukaan kawasan sudah dikonfirmasi.
Jika ingin fotografi
Pagi dan sore biasanya memberikan cahaya yang lebih lembut dibanding tengah hari.
Tetapi selalu perhatikan cuaca pegunungan.
Kabut dapat datang tiba-tiba, jalan dapat menjadi licin, dan jarak pandang dapat berubah dengan cepat.
Bagaimana Cara Menuju Kawah Wurung?
Kawah Wurung dapat diakses melalui kawasan Bondowoso maupun melalui jalur dari arah Banyuwangi/Ijen.
Karena kondisi jalan pegunungan dan rute dapat berubah, wisatawan sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi lama dari blog perjalanan.
Salah satu keuntungan mengunjungi kawasan ini melalui perjalanan Ijen adalah banyak destinasi dapat digabungkan dalam satu rute.
Pemerintah Bondowoso sendiri telah menggunakan rute yang menghubungkan Paltuding – Kalipait – Kawah Wurung – Jabal Kirmit – Air Panas Blawan dalam kegiatan GeoTrip.
Apakah Kawah Wurung Aman?
Kawah Wurung umumnya memiliki karakter wisata yang berbeda dari dasar Kawah Ijen, tetapi “lebih santai” bukan berarti bebas risiko.
Pengunjung tetap berada di lingkungan pegunungan dan vulkanik.
Potensi risiko dapat mencakup:
- perubahan cuaca;
- kabut;
- jalan licin;
- terpeleset di lereng;
- kelelahan;
- kendaraan pada jalur berbatu;
- serta risiko lingkungan vulkanik di kawasan Ijen secara lebih luas.
Jangan memasuki area yang ditutup atau melampaui batas aman hanya demi mendapatkan foto.
Etika Wisata di Kawah Wurung
Kawasan savana terlihat kuat dan luas, tetapi vegetasi tetap dapat rusak jika terus diinjak.
Beberapa prinsip sederhana sangat penting:
Jangan membuang sampah
Bawa kembali sampah Anda.
Jangan merusak tanaman
Tidak semua area hijau adalah tempat untuk berjalan atau membuat foto.
Jangan membuat jalur baru
Gunakan jalur yang sudah tersedia.
Jangan mengambil batu
Batuan merupakan bagian dari warisan geologi kawasan.
Hormati masyarakat lokal
Jika menggunakan jasa pemandu, jeep, homestay, atau produk lokal, Anda ikut membantu ekonomi masyarakat.
Jangan mengejar foto ekstrem
Foto hanya bernilai jika Anda tetap pulang dengan selamat.
Kawah Wurung Bukan “Kawah Ijen Versi Kecil”
Ini mungkin kesimpulan paling penting.
Kawah Wurung tidak seharusnya dipasarkan hanya sebagai destinasi alternatif bagi orang yang tidak sempat pergi ke Kawah Ijen.
Ia memiliki identitas sendiri.
Kawah Ijen menunjukkan sistem danau kawah aktif yang ekstrem.
Kawah Wurung menunjukkan bagaimana aktivitas gunung api intrakaldera membentuk perbukitan dan lanskap padang rumput yang unik.
Keduanya justru saling melengkapi.
Jika Kawah Ijen memperlihatkan wajah dramatis dan ekstrem dari vulkanisme, Kawah Wurung memperlihatkan sisi tenang, hijau, dan geomorfologis dari lanskap yang sama.
Masa Depan Kawah Wurung
Potensi Kawah Wurung masih sangat besar.
Pemerintah daerah telah memasukkannya ke dalam pengembangan kawasan wisata Ijen–Raung, sementara program Ijen Caldera Adventure mencoba menghubungkan berbagai destinasi melalui pengalaman perjalanan berbasis petualangan.
Namun, pertumbuhan wisata harus diimbangi konservasi.
Ada beberapa prinsip yang sebaiknya menjadi dasar pengembangan:
Pertama, geologi harus menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Jangan hanya menyediakan spot foto. Sediakan papan interpretasi yang menjelaskan bagaimana lanskap tersebut terbentuk.
Kedua, masyarakat harus menjadi bagian utama dari ekonomi wisata.
Semakin besar kunjungan, semakin besar pula kesempatan masyarakat lokal mendapatkan manfaat.
Ketiga, kapasitas lingkungan harus diperhatikan.
Padang rumput, jalur kendaraan, air, sampah, dan vegetasi memiliki batas.
Keempat, digitalisasi harus digunakan untuk edukasi, bukan hanya promosi.
Pengunjung seharusnya dapat memahami apa yang mereka lihat sebelum sampai di lokasi.
Kesimpulan
Kawah Wurung adalah salah satu lanskap paling menarik di kawasan Ijen, bukan karena memiliki danau kawah atau Blue Fire, tetapi justru karena ia menunjukkan wajah vulkanik yang berbeda.
Hamparan savana dan bukit yang tampak sederhana sebenarnya merupakan hasil dari sejarah vulkanisme yang kompleks.
Kawasan ini berada di lingkungan Ijen Geopark, yang secara internasional telah diakui sebagai UNESCO Global Geopark sejak 2023.
Kawah Wurung merupakan bagian dari sistem gunung api intrakaldera dan merepresentasikan aktivitas vulkanik pascakaldera.
Di permukaan, kita melihat rumput hijau, bukit, bunga liar, kabut, dan matahari terbit.
Di bawahnya terdapat sejarah panjang tentang magma, gunung api, batuan, panas bumi, erosi, dan perubahan lanskap.
Dan di sekitarnya terdapat masyarakat yang kehidupannya terhubung dengan pertanian, kopi, pariwisata, dan sumber daya alam kawasan Ijen.
Itulah alasan Kawah Wurung layak dikunjungi bukan sekadar untuk mengambil foto.
Kawah Wurung adalah sebuah halaman penting dalam cerita besar tentang bagaimana gunung api membentuk alam, dan bagaimana manusia kemudian belajar hidup berdampingan dengannya.
Fakta Singkat Kawah Wurung
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Kawah Wurung |
| Lokasi | Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso |
| Kawasan | Kompleks/Kaldera Ijen |
| Karakter | Lanskap vulkanik, padang rumput, perbukitan |
| Nama “Wurung” | Dalam bahasa Jawa berarti tidak jadi/gagal |
| Nilai geologi | Morfologi gunung api intrakaldera/pascakaldera |
| Julukan | Bukit Teletubbies |
| Daya tarik | Savana, perbukitan, sunrise, fotografi, trekking |
| Pengembangan wisata | Ijen Caldera Adventure dan wisata berbasis masyarakat |
| Geopark | Bagian dari Ijen UNESCO Global Geopark |
| Potensi lain | Panas bumi dan keanekaragaman hayati |
Data lokasi dan karakter Kawah Wurung di atas dirangkum dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Kementerian Pariwisata melalui Jadesta, publikasi terkait Ijen Geopark, serta penelitian mengenai geologi dan panas bumi kawasan.
